capitalindo.id kali ini tidak membahas pasar saham, melainkan perubahan perilaku pembayaran digital. BCA Digital mencatat volume transaksi digital di luar transfer mencapai Rp13,13 triliun hingga 31 Agustus 2026, meningkat 186 persen dibanding tiga tahun sebelumnya. QRIS menjadi kontributor terbesar dengan porsi sekitar 36 persen dari total volume.
Data tersebut menunjukkan pembayaran melalui ponsel semakin bergeser dari fitur tambahan menjadi kebiasaan utama nasabah digital.
QRIS Bukan Lagi Sekadar Scan Statis
Pada fase awal, QRIS identik dengan pengguna yang memindai kode di meja kasir.
Sekarang bentuknya lebih luas.
BCA Digital mendukung QRIS CPM, QRIS Tun-Tas, serta QRIS Tap. Frekuensi transaksi QRIS dilaporkan tumbuh sekitar 124 persen secara tahunan.
Perubahan tersebut memperluas konteks penggunaan.
Pembayaran dapat dilakukan di merchant, kebutuhan transportasi tertentu, maupun skenario transaksi lain yang sebelumnya menggunakan kartu atau uang tunai.
Semakin sedikit langkah yang dibutuhkan, semakin besar peluang pengguna memilih pembayaran digital sebagai opsi pertama.
Nilai Transaksi Tembus Rp13 Triliun
Dalam tiga tahun, total volume transaksi digital blu di luar transfer naik 186 persen menjadi Rp13,13 triliun.
Penting membedakan angka ini dengan pertumbuhan QRIS.
Kenaikan 186 persen merupakan pertumbuhan volume transaksi digital secara keseluruhan, bukan berarti nilai QRIS sendiri naik sebesar angka tersebut.
QRIS menyumbang sekitar 36 persen dari volume, menjadikannya kategori terbesar.
Pola ini memperlihatkan bagaimana aplikasi bank digital berkembang dari tempat menyimpan uang menjadi alat transaksi harian.
Gen Z Menjadi Basis Nasabah Besar
BCA Digital melaporkan sekitar 56 persen nasabah blu berasal dari Gen Z dan sekitar 35 persen dari kelompok milenial.
Komposisi tersebut membantu menjelaskan pertumbuhan transaksi berbasis aplikasi.
Pengguna muda terbiasa melakukan pembayaran melalui smartphone dan memiliki hambatan lebih kecil untuk mencoba fitur baru.
Namun usia bukan satu-satunya faktor.
Kemudahan interface, kecepatan transaksi, jumlah merchant, serta integrasi dengan layanan lain menentukan apakah pengguna akan tetap memakai produk.
E-Wallet dan Biller Ikut Tumbuh
Transaksi e-wallet blu tumbuh sekitar 71 persen secara tahunan, sementara bluPayment naik 56 persen.
Pembayaran dan pembelian melalui kategori biller juga meningkat sekitar 44 persen.
Data tersebut menunjukkan satu aplikasi semakin sering dipakai untuk berbagai kebutuhan.
Nasabah tidak hanya mengirim uang antarrekening.
Mereka membayar tagihan, mengisi dompet digital, bertransaksi melalui QRIS, serta menggunakan layanan valuta asing.
Inilah alasan bank digital berlomba memperluas ekosistem.
Semakin banyak kebutuhan yang dapat diselesaikan dari satu aplikasi, semakin tinggi kemungkinan pengguna kembali.
Pembayaran Digital Bergerak Lintas Negara
Perkembangan berikutnya tidak berhenti pada transaksi domestik.
QRIS lintas negara telah berkembang melalui kerja sama dengan sejumlah pasar regional, sementara layanan valuta asing juga semakin mudah diakses dari aplikasi perbankan.
Bagi pengguna, manfaatnya terasa pada perjalanan atau belanja lintas negara.
Bagi bank, layanan semacam ini membuka kompetisi baru.
Nilai tukar, biaya, ketersediaan mata uang, dan pengalaman pengguna menjadi faktor pembeda.
UMKM Tetap Menjadi Bagian Penting
Pertumbuhan QRIS nasional juga ditopang jumlah merchant yang besar.
Bank Indonesia sebelumnya mencatat puluhan juta merchant telah menggunakan QRIS dan mayoritas berasal dari kelompok UMKM.
Artinya, efek digitalisasi tidak hanya terjadi pada bank dan perusahaan teknologi.
Warung, toko kecil, pedagang kuliner, serta usaha jasa ikut masuk ke jaringan pembayaran digital.
Dalam skala ekonomi, proses ini membantu transaksi menjadi lebih tercatat.
Namun adopsi digital juga membawa kebutuhan baru seperti keamanan akun, literasi penipuan, dan akses terhadap perangkat.
Kemudahan Harus Diimbangi Keamanan
Semakin sering aplikasi digunakan, semakin besar nilai akun bagi pelaku kejahatan.
Phishing, social engineering, pencurian OTP, dan pengambilalihan perangkat menjadi risiko yang perlu diperhatikan.
Bank dapat menambahkan autentikasi dan deteksi fraud, tetapi pengguna tetap memiliki peran.
Kode OTP, PIN, serta kata sandi tidak boleh dibagikan meskipun orang yang menghubungi mengaku sebagai petugas bank.
Aplikasi juga sebaiknya hanya dipasang dari toko resmi.
Bank Digital Memasuki Fase Kedua
Tahap pertama industri bank digital banyak berfokus pada pembukaan akun tanpa cabang dan promosi bunga.
Tahap berikutnya lebih sulit.
Pengguna harus benar-benar memakai rekening untuk aktivitas sehari-hari.
Data BCA Digital menunjukkan perubahan tersebut mulai terjadi.
Volume transaksi tumbuh, QRIS mengambil porsi besar, dan layanan pembayaran semakin beragam.
Menurut laporan terbaru, perusahaan juga mengarahkan pengembangan berikutnya pada penguatan ekosistem finansial, bukan sekadar menambah fitur secara acak.
Persaingan bank digital akhirnya akan ditentukan oleh frekuensi penggunaan, bukan jumlah unduhan aplikasi.
Jika nasabah membuka aplikasi setiap hari untuk membayar makanan, transportasi, tagihan, atau kebutuhan lintas negara, hubungan dengan bank menjadi jauh lebih kuat.


