Konflik bersenjata di kawasan Teluk ternyata tidak menyurutkan semangat para investor di Uni Emirat Arab (UAE). Sebaliknya, mereka justru memanfaatkan penurunan harga sebagai peluang. Investor UAE aktif memborong saham AI dan aset kripto di tengah gejolak geopolitik yang sedang berlangsung.
Investor UAE Pilih “Buy the Dip” saat Pasar Tertekan
Data terbaru dari platform investasi eToro menunjukkan tren menarik. Pengguna eToro di UAE justru menambah kepemilikan saham teknologi dan AI. Hal ini terjadi ketika harga saham-saham tersebut turun tajam pada kuartal pertama 2026.
Dengan demikian, strategi mereka jelas: bukan panik menjual, melainkan membeli di harga rendah. Pola ini menunjukkan bahwa investor UAE tetap percaya pada pertumbuhan jangka panjang sektor AI dan infrastruktur digital.

Josh Gilbert, analis pasar eToro, mengungkapkan temuannya kepada Cointelegraph. Menurutnya, investor UAE menjadi lebih selektif dalam mengambil risiko sepanjang Q1 2026. Selain itu, keputusan investasi mereka lebih didorong oleh tema jangka panjang. Bukan oleh mentalitas menghindari risiko semata.
Saham AI yang Paling Banyak Dibeli
Gilbert menyebutkan beberapa saham yang mencatat kenaikan kepemilikan signifikan. Pertama, ServiceNow melonjak hingga 125%. Kemudian, Super Micro Computer naik 65%. Selanjutnya, Adobe tercatat naik 54%. Terakhir, Oracle membukukan kenaikan sebesar 38%.
Semua ini terjadi meskipun pasar sedang berada di bawah tekanan. Selain itu, di sisi aset kripto, Strategy Inc. tetap menjadi saham ke-8 yang paling banyak dipegang. Hal ini menunjukkan bahwa eksposur terhadap ekuitas terkait kripto tetap terjaga.
Konflik Iran Uji Ambisi Gulf sebagai Pusat Teknologi Dunia
Di sisi lain, situasi geopolitik tetap menjadi perhatian serius. Konflik antara AS-Israel dengan Iran telah mengekspos risiko baru bagi infrastruktur teknologi di kawasan Teluk. Laporan Deutsche Bank tertanggal 13 April 2026 menyoroti hal ini secara khusus.
Menurut laporan tersebut, serangan dilaporkan mengenai pusat data Amazon Web Services di UAE dan Bahrain. Bahkan, proyek Stargate berkapasitas 1 gigawatt di Abu Dhabi juga disebut mendapat ancaman. Namun, Deutsche Bank berpendapat bahwa guncangan ini justru akan mempertajam permintaan. Bukan menghentikannya.
Oleh karena itu, kebutuhan terhadap AI, keamanan siber, dan infrastruktur digital berdaulat di kawasan ini diprediksi akan semakin kuat. Kawasan Teluk memiliki keunggulan tersendiri. Energi murah, pipeline proyek pusat data yang padat, dan dana kekayaan negara senilai sekitar $5 triliun pada 2025 menjadi fondasi yang kuat.
Perusahaan Kripto di Dubai Tetap Beroperasi
Bagaimana kondisi di lapangan? Para pelaku industri kripto di Dubai mengaku operasional mereka tetap berjalan. Namun, ada beberapa penyesuaian yang dilakukan.
Ben El-Baz, Managing Director HashKey MENA, menyebut operasional mereka tetap berjalan normal. Hal ini dimungkinkan oleh sistem trading dan kustodi berbasis cloud. Sistem tersebut tidak terlalu bergantung pada lokasi fisik. Meski demikian, gangguan kerja jarak jauh dan perjalanan tetap tidak bisa dihindari.
Sementara itu, Binance juga tetap beroperasi normal. Juru bicara Binance mengonfirmasi kepada Cointelegraph bahwa karyawan diberi opsi relokasi sementara sebagai langkah pencegahan. Namun, sebagian besar memilih untuk tetap tinggal. Di sisi lain, konferensi besar seperti Token2049 di Dubai terpaksa ditunda hingga 2027.
Hayssam El Masri dari Ento Capital menilai konflik ini sedang “memperhalus” bukan menghancurkan prospek GCC. Menurutnya, investor telah bergeser dari mode percaya diri ke mode sadar risiko. Akan tetapi, mereka umumnya tidak keluar dari kawasan ini.
Regulator UAE Tegaskan Komitmen dengan Aturan yang Jelas
Di tengah turbulensi ini, regulator UAE tidak tinggal diam. Dubai’s Virtual Assets Regulatory Authority (VARA) terus menjalankan kerangka regulasinya. Mereka merilis panduan detail soal penerbitan token. Selain itu, aturan resmi untuk derivatif kripto juga sudah ditetapkan.
Sean McHugh, kepala market assurance VARA, memberikan pernyataan tegas. Menurutnya, dalam masa-masa penuh tekanan, pelaku pasar serius tidak mencari yurisdiksi dengan aturan paling longgar. Sebaliknya, mereka mencari yurisdiksi dengan aturan paling jelas.
Oleh karena itu, kombinasi lisensi transparan, pengawasan yang terlihat, dan penegakan aktif di Dubai dirancang untuk menarik institusi. Tujuannya agar mereka menjadikan Dubai sebagai basis strategis jangka panjang. Bukan sekadar tempat parkir modal sesaat.
Kesimpulan: UAE Tetap Jadi Magnet Investasi Digital
Secara keseluruhan, investor UAE mengirim sinyal yang kuat ke pasar global. Konflik geopolitik memang menciptakan volatilitas. Namun, hal itu tidak mengubah keyakinan mereka terhadap masa depan AI dan aset kripto.
Selain itu, dukungan regulasi yang jelas dari VARA semakin memperkuat posisi Dubai. Dengan demikian, kawasan Teluk — khususnya UAE — tampaknya akan tetap menjadi salah satu pusat investasi digital paling aktif di dunia, meski di tengah badai sekalipun.


