New York, 24 April 2026 — Dunia kripto kembali digemparkan oleh sebuah pencapaian ilmiah yang sekaligus memunculkan kekhawatiran serius soal keamanan aset digital. Startup keamanan kuantum Project Eleven mengumumkan pemberian Q-Day Prize berupa satu Bitcoin kepada Giancarlo Lelli, setelah peneliti independen tersebut berhasil membobol kunci elliptic curve 15-bit menggunakan komputer kuantum yang dapat diakses publik.
Hasil ini disebut sebagai demonstrasi publik terbesar hingga saat ini dari kelas serangan yang mengancam Bitcoin, Ethereum, dan lebih dari $2,5 triliun aset digital yang diamankan oleh kriptografi berbasis elliptic curve (ECC).
Apa itu serangan ini dan mengapa penting?
Kriptografi elliptic curve adalah matematika yang memungkinkan dompet kripto membuktikan kepemilikan dana tanpa mengungkapkan kunci privatnya. Kunci publik dapat terlihat oleh siapa saja, namun menurunkan kunci privat yang sesuai seharusnya mustahil secara praktis. Komputer kuantum yang menjalankan algoritma Shor — teknik kuantum yang pertama kali diusulkan pada 1994 — menantang asumsi tersebut dengan menyerang logika dasar yang mengamankan tanda tangan digital ini.
Lelli menurunkan kunci privat dari kunci publiknya di ruang pencarian sebesar 32.767 kemungkinan, menggunakan varian dari algoritma Shor yang menargetkan Elliptic Curve Discrete Logarithm Problem (ECDLP) — matematika di balik skema tanda tangan digital yang mengamankan Bitcoin, Ethereum, dan sebagian besar blockchain.
Lompatan 512 Kali dari Demonstrasi Sebelumnya
Sebelum Lelli, seorang insinyur bernama Steve Tippeconnic membobol kunci elliptic curve 6-bit pada September 2025 menggunakan komputer kuantum IBM 133-qubit. Itu adalah pembobolan publik pertama jenis ini pada perangkat keras kuantum nyata. Pencapaian Lelli dengan kunci 15-bit memperluas rekor tersebut sebanyak 512 kali lipat.
Hadiah ini bernilai sekitar $78.000 pada harga saat ini dan dirancang untuk mengukur apakah serangan kuantum pada produk berbasis kriptografi nyata sedang bergerak dari sekadar makalah ilmiah menuju eksperimen perangkat keras publik.
Belum Mengancam Bitcoin Secara Langsung, Tapi…
Penting untuk dipahami bahwa pencapaian ini bukan berarti Bitcoin segera bisa dibobol. Bitcoin menggunakan keamanan elliptic curve 256-bit, sementara kunci 15-bit hanya memiliki ruang pencarian sebesar 32.767 kemungkinan — sangat kecil jika dibandingkan.
Namun tren yang terbentuk patut dicermati. Google dalam whitepaper April 2026-nya memperkirakan bahwa serangan penuh pada kunci 256-bit (skala Bitcoin) hanya membutuhkan sekitar 500.000 qubit fisik, jauh turun dari perkiraan awal yang mencapai puluhan juta. Sebuah makalah susulan dari California Institute of Technology dan startup kuantum Oratomic bahkan menyarankan jumlah itu bisa serendah 10.000 qubit. Sistem kuantum saat ini masih jauh di bawah ambang tersebut.
Urgensi Migrasi ke Kriptografi Post-Kuantum
“Persyaratan sumber daya untuk jenis serangan ini terus menurun, dan hambatan untuk menjalankannya dalam praktik ikut berkurang,” kata Alex Pruden, CEO Project Eleven.
Project Eleven menyebut ada sekitar 6,9 juta Bitcoin yang tersimpan di dompet dengan kunci publik yang terlihat di blockchain, sehingga berpotensi rentan jika sistem kuantum yang cukup kuat dikembangkan.
Respons dari ekosistem blockchain pun mulai bergerak. Pengembang Bitcoin sedang meninjau berbagai proposal, termasuk BIP-360 yang bertujuan memperkenalkan format transaksi tahan kuantum, serta BIP-361 yang ingin menghapus sistem lama dan membekukan token yang gagal bermigrasi. Sementara itu, tim keamanan post-kuantum Ethereum juga telah dibentuk untuk mencari dan mengganti bagian-bagian jaringan yang rentan.
Pencapaian Giancarlo Lelli menjadi pengingat bahwa ancaman kuantum terhadap aset kripto — meskipun belum mendesak hari ini — bergerak lebih cepat dari yang banyak orang perkirakan. Komunitas blockchain kini berlomba waktu untuk membangun pertahanan sebelum komputer kuantum benar-benar mampu menembus enkripsi yang menjadi fondasi triliunan dolar aset digital.


