Rekor Baru! Penambang Bitcoin Publik Jual Lebih Banyak BTC di Q1 2026 Dibanding Sepanjang Tahun 2025
- Lebih dari 32.000 BTC Dijual Hanya dalam Satu Kuartal
- Hashprice di Titik Terendah: Ancaman Nyata bagi Profitabilitas
- Tiga Faktor yang Memperberat Beban Penambang
- Cadangan BTC Para Penambang Terus Menyusut
- Kontras Tajam: Treasury Companies Justru Terus Membeli
- Kesimpulan: Industri Bitcoin Kini Terbelah Dua

Dunia pertambangan Bitcoin kembali mencatatkan rekor mengejutkan. Perusahaan penambang Bitcoin yang terdaftar di bursa saham publik menjual BTC dalam jumlah terbesar sepanjang sejarah. Hanya dalam tiga bulan pertama 2026, total penjualan mereka sudah melampaui keseluruhan penjualan tahun 2025. Kondisi ini menjadi sinyal serius bahwa tekanan bisnis di industri penambangan kripto semakin berat.
Lebih dari 32.000 BTC Dijual Hanya dalam Satu Kuartal
Sejumlah penambang Bitcoin publik terkemuka telah menjual lebih dari 32.000 BTC di Q1 2026. Mereka antara lain MARA, CleanSpark, Riot, Cango, Core Scientific, dan Bitdeer. Angka ini bukan hanya melampaui total penjualan sepanjang 2025. Bahkan, rekor historis lainnya pun ikut terpecahkan.
Sebagai perbandingan, pada Q2 2022 para penambang menjual sekitar 20.000 BTC. Saat itu, pasar kripto runtuh akibat kolapsnya ekosistem Terra-Luna. Artinya, Q1 2026 ini resmi menjadi kuartal dengan penjualan BTC terbesar oleh penambang sepanjang sejarah industri.
Hashprice di Titik Terendah: Ancaman Nyata bagi Profitabilitas
Salah satu penyebab utama gelombang penjualan ini adalah hashprice yang berada di level terendah. Hashprice adalah metrik penting yang mencerminkan biaya komputasi dan profitabilitas penambang.
Saat ini, hashprice berada di kisaran $33 per petahash/detik (PH/s) per hari. Angka itu turun di bawah ambang breakeven sebesar $35 PH/s. Akibatnya, sekitar 20% dari total industri penambangan Bitcoin kini beroperasi dalam zona merugi. Bagi mereka, menjual cadangan BTC bukan pilihan, melainkan keharusan. Tren penurunan ini sudah berlangsung sejak Juli 2025 dan belum menunjukkan pemulihan berarti.
Tiga Faktor yang Memperberat Beban Penambang
Situasi ini tidak lahir dari satu penyebab saja. Sebaliknya, ada tiga tekanan besar yang terjadi bersamaan.
Pertama, persaingan yang semakin ketat. Hashrate jaringan Bitcoin terus tumbuh. Semakin tinggi hashrate, semakin kecil peluang setiap penambang mendapat hadiah blok. Ini langsung menekan pendapatan mereka.
Kedua, pengurangan hadiah blok akibat halving. Pasca-halving terakhir, hadiah per blok otomatis berkurang setengahnya. Pendapatan penambang pun terpangkas tanpa ada pengurangan biaya operasional yang sepadan.
Ketiga, biaya energi yang meningkat. Kombinasi harga kripto yang rendah dan biaya listrik yang naik memaksa banyak penambang melikuidasi simpanan BTC mereka. Sebelumnya, koin-koin itu disimpan sebagai cadangan korporat jangka panjang.
Cadangan BTC Para Penambang Terus Menyusut
Tren penjualan ini sebenarnya sudah berlangsung lama. Pada akhir 2023, seluruh penambang secara kolektif memegang lebih dari 1,86 juta BTC. Kini, angka itu menyusut menjadi sekitar 1,8 juta BTC. Penurunan ini mencerminkan tekanan jangka panjang yang menggerus kemampuan penambang mempertahankan aset mereka.
Bahkan, manajer aset CoinShares memberikan peringatan tegas. Dalam laporan Bitcoin Mining Q1 2026, mereka memperkirakan lebih banyak kapitulasi dari operator berbiaya tinggi pada paruh pertama 2026. Namun, hal itu hanya bisa dihindari jika harga BTC pulih secara signifikan.
Kontras Tajam: Treasury Companies Justru Terus Membeli
Menariknya, situasi yang dialami penambang sangat kontras dengan perusahaan treasury Bitcoin. Sementara penambang menjual, perusahaan seperti Strategy justru terus menambah koleksi BTC mereka.
Michael Saylor, pendiri Strategy, bahkan mengisyaratkan akuisisi BTC baru di awal pekan ini. Ia memposting grafik historis pembelian BTC Strategy di media sosial dengan komentar singkat: “Think bigger.” Pesan itu sudah dikenal publik sebagai sinyal bahwa Strategy sedang dalam proses membeli lebih banyak Bitcoin.
Kesimpulan: Industri Bitcoin Kini Terbelah Dua
Industri Bitcoin kini terbagi jelas menjadi dua kubu. Di satu sisi, ada penambang yang terpaksa menjual BTC demi menutupi biaya operasional. Di sisi lain, ada perusahaan treasury yang justru memanfaatkan harga rendah sebagai peluang akumulasi.
Tanpa pemulihan harga yang signifikan, tekanan pada penambang berbiaya tinggi akan terus berlanjut. Oleh karena itu, gelombang konsolidasi — bahkan kebangkrutan — bisa menjadi skenario nyata di paruh kedua 2026.
Rekor penjualan BTC di Q1 2026 bukan sekadar angka. Sebaliknya, ini adalah cerminan dari perubahan struktural yang sedang membentuk ulang industri penambangan Bitcoin secara fundamental.


