• Aset Digital
  • Berita Pasar
  • Data & Insight
  • Ekonomi Modern
  • Teknologi Finansial (Fintech)
Reading: Asing Mulai Borong Saham Bank, IHSG Naik 0,60% di Sesi I
Share
Font ResizerAa
Font ResizerAa
  • Home
  • Contact
Search
  • Aset Digital
  • Berita Pasar
  • Data & Insight
  • Ekonomi Modern
  • Teknologi Finansial (Fintech)
Have an existing account? Sign In
Follow US
© Foxiz News Network. Ruby Design Company. All Rights Reserved.
Home » Blog » Asing Mulai Borong Saham Bank, IHSG Naik 0,60% di Sesi I
Berita Pasar

Asing Mulai Borong Saham Bank, IHSG Naik 0,60% di Sesi I

MadelineLaine
Last updated: September 1, 2026 3:44 pm
MadelineLaine
Published: September 1, 2026
Share

Asing Mulai Borong Saham Bank, IHSG Naik 0,60% di Sesi I

capitalindo –Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengawali perdagangan September 2026 dengan penguatan. Pada perdagangan sesi I, Selasa (1/9/2026), IHSG naik 39,03 poin atau 0,60% ke level 6.564,51. Penguatan tersebut berlangsung ketika mayoritas bursa saham Asia justru bergerak di zona merah.

Contents
  • IHSG Menguat Saat Bursa Asia Bergerak Beragam
  • Investor Asing Catat Net Buy Hampir Rp1 Triliun
  • BBRI Jadi Saham Bank yang Paling Dilirik
  • BUMI Ikut Jadi Sasaran Akumulasi Asing
  • Sembilan Sektor Berada di Zona Hijau
  • Apa yang Perlu Diperhatikan Investor?
  • Awal September Beri Sinyal Positif untuk IHSG

Salah satu perhatian utama pasar datang dari aktivitas investor asing. Hingga akhir sesi pertama, investor asing mencatatkan net foreign buy sebesar Rp972,64 miliar. Aliran dana tersebut banyak masuk ke sejumlah saham berkapitalisasi besar, terutama dari sektor perbankan dan pertambangan.

Kondisi tersebut membuat pergerakan saham bank seperti BBRI, BBCA, dan BMRI menjadi salah satu faktor penting yang menopang IHSG pada perdagangan awal September.

IHSG Menguat Saat Bursa Asia Bergerak Beragam

IHSG dibuka pada level sekitar 6.538 dan sempat bergerak dalam rentang 6.535 hingga 6.586 sepanjang sesi pertama. Pada akhirnya, indeks mampu bertahan di zona hijau dan ditutup sementara pada level 6.564,51.

Kinerja tersebut cukup menarik karena pasar saham regional tidak menunjukkan sentimen yang seragam. Pada sesi perdagangan yang sama, Nikkei 225 tercatat turun 0,16%, Hang Seng melemah 1,14%, sedangkan Straits Times turun 0,67%. Shanghai Composite hanya mencatat penguatan tipis sekitar 0,03%.

Artinya, penguatan pasar saham Indonesia pada awal September tidak sepenuhnya mengikuti pergerakan bursa kawasan. Investor domestik maupun asing justru masih menunjukkan minat terhadap sejumlah saham unggulan di BEI.

Dari sisi breadth pasar, sebanyak 385 saham menguat, sementara 221 saham melemah dan 183 saham lainnya bergerak stagnan. Nilai transaksi mencapai sekitar Rp10,21 triliun dengan volume perdagangan 28,49 miliar saham dan frekuensi sekitar 1,54 juta transaksi.

Investor Asing Catat Net Buy Hampir Rp1 Triliun

Aktivitas investor asing menjadi salah satu sentimen paling menarik pada perdagangan kali ini. Berdasarkan data perdagangan sesi pertama, asing mencatatkan pembelian bersih sebesar Rp972,64 miliar.

Nilai tersebut menunjukkan bahwa dana asing yang masuk ke pasar reguler cukup besar dibandingkan tekanan jual yang terjadi pada sejumlah saham lainnya. Secara keseluruhan, transaksi asing mencapai sekitar Rp3 triliun untuk pembelian dan Rp2 triliun untuk penjualan.

Saham PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk atau BBRI menjadi emiten yang paling banyak dibeli investor asing. Nilai net buy asing pada saham tersebut mencapai sekitar Rp405,96 miliar.

Setelah BBRI, saham PT Bumi Resources Tbk (BUMI) mencatat net buy asing sekitar Rp178,78 miliar. Posisi berikutnya ditempati PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) dengan Rp160,20 miliar dan PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI) sekitar Rp124,64 miliar.

Sementara itu, PT Bukit Asam Tbk (PTBA) juga masuk lima besar saham yang paling banyak dibeli asing dengan nilai sekitar Rp61,91 miliar.

Komposisi tersebut memperlihatkan bahwa minat investor asing tidak hanya terpusat pada satu sektor. Saham perbankan besar dan emiten komoditas sama-sama menjadi tujuan aliran dana.

BBRI Jadi Saham Bank yang Paling Dilirik

Pergerakan BBRI menjadi salah satu sorotan utama dalam perdagangan sesi pertama. Saham bank tersebut naik 2,15% ke level Rp3.320.

Selain mendapatkan aliran dana asing terbesar, BBRI juga mencatatkan nilai transaksi sekitar Rp611,71 miliar. Pergerakan ini turut memberikan dukungan terhadap IHSG mengingat saham perbankan besar memiliki pengaruh cukup signifikan terhadap indeks.

Sentimen terhadap BBRI juga mendapat dukungan dari kinerja keuangan perusahaan. BBRI membukukan laba bersih konsolidasian sebesar Rp31,18 triliun pada semester I 2026, tumbuh 17,5% secara tahunan dibandingkan Rp26,53 triliun pada periode yang sama tahun sebelumnya.

Pendapatan bunga bersih BBRI juga meningkat 9,9% secara tahunan menjadi Rp80,53 triliun. Kinerja tersebut menjadi salah satu faktor yang membuat saham bank ini tetap menarik perhatian pelaku pasar.

Namun, investor tetap perlu melihat apakah minat beli tersebut mampu bertahan pada sesi berikutnya. Net buy dalam satu sesi perdagangan memang menjadi sentimen positif, tetapi belum otomatis menunjukkan bahwa tren akumulasi asing akan berlangsung dalam jangka panjang.

BUMI Ikut Jadi Sasaran Akumulasi Asing

Selain saham bank, investor asing juga aktif membeli saham sektor pertambangan. BUMI menjadi salah satu saham dengan transaksi terbesar pada sesi pertama.

Saham BUMI menguat 6,25% ke level Rp204. Nilai transaksinya mencapai sekitar Rp1,07 triliun, sehingga menempatkannya sebagai salah satu saham paling aktif pada perdagangan sesi pertama.

Net buy asing pada BUMI mencapai sekitar Rp178,78 miliar. Aktivitas tersebut memperlihatkan bahwa sektor energi masih mendapatkan perhatian pasar ketika investor mulai memasuki perdagangan bulan September.

PTBA juga masuk dalam daftar saham yang paling banyak dibeli asing. Saham tersebut mencatat net buy sekitar Rp61,91 miliar. Dengan demikian, aliran dana asing ke sektor komoditas tidak hanya terjadi pada BUMI, tetapi juga menjangkau emiten tambang lainnya.

Sembilan Sektor Berada di Zona Hijau

Penguatan IHSG pada sesi pertama juga mendapat dukungan dari mayoritas sektor. Dari 11 indeks sektoral yang ada di BEI, sembilan sektor berada di zona hijau.

Sektor industri menjadi pemimpin kenaikan dengan penguatan sekitar 2,45%. Setelahnya terdapat sektor energi yang naik 1,50% dan transportasi yang menguat 1,26%.

Kondisi ini menunjukkan bahwa kenaikan IHSG cukup luas dan tidak hanya berasal dari beberapa saham berkapitalisasi besar.

Sejumlah saham juga mencatatkan kenaikan signifikan. SMGR, misalnya, masuk jajaran top gainers dengan kenaikan 15,20%. BUMI naik 6,25%, sedangkan UNTR menguat 5,68%. Di sisi lain, terdapat pula saham yang mengalami tekanan cukup besar, seperti EMAS yang turun 4,95%.

Perbedaan performa antar saham tersebut menunjukkan adanya rotasi dana yang berlangsung di pasar. Investor tampaknya masih memilih saham tertentu sambil melepas sebagian saham lainnya.

Apa yang Perlu Diperhatikan Investor?

Kenaikan IHSG pada awal September menjadi sentimen positif bagi pasar domestik. Apalagi, penguatan tersebut berlangsung bersamaan dengan masuknya dana asing hampir Rp1 triliun.

Meski begitu, investor tetap perlu memperhatikan sejumlah faktor yang dapat menentukan arah IHSG selanjutnya. Salah satunya adalah keberlanjutan arus dana asing. Jika aksi beli masih berlanjut pada saham-saham utama seperti BBRI, BBCA, BMRI, BUMI, dan PTBA, sentimen positif terhadap IHSG berpotensi bertahan.

Sebaliknya, apabila investor asing mulai melakukan aksi jual dalam jumlah besar, indeks bisa kembali menghadapi tekanan. Pergerakan saham perbankan juga patut menjadi perhatian karena kelompok saham tersebut berperan penting dalam menopang indeks.

Selain faktor domestik, kondisi pasar global tetap menjadi risiko yang tidak bisa diabaikan. Pergerakan bursa Asia, kebijakan bank sentral global, nilai tukar rupiah, serta harga komoditas dapat memengaruhi keputusan investor asing.

Awal September Beri Sinyal Positif untuk IHSG

Penguatan IHSG 1 September 2026 memberikan awal perdagangan bulan yang cukup positif. IHSG mampu naik 0,60% ke level 6.564,51 meski mayoritas bursa Asia bergerak melemah.

Yang membuat perdagangan kali ini semakin menarik adalah aktivitas investor asing. Net buy sebesar Rp972,64 miliar menunjukkan adanya aliran dana yang cukup kuat menuju pasar saham Indonesia. BBRI menjadi saham yang paling banyak dibeli, kemudian disusul BUMI, BBCA, BMRI, dan PTBA.

Namun, kondisi tersebut belum bisa menjadi jaminan bahwa IHSG akan terus menguat sepanjang September. Investor masih perlu memantau volume transaksi, arah dana asing, kinerja saham bank besar, serta sentimen dari pasar global.

Untuk sementara, kombinasi antara penguatan IHSG, net buy asing, dan kenaikan saham perbankan serta energi menjadi sinyal yang menarik pada awal perdagangan September. Pergerakan pada sesi II dan beberapa hari perdagangan berikutnya akan menjadi penentu apakah momentum tersebut mampu berlanjut atau justru mengalami perubahan arah.

Josh Stark Mundur dari Ethereum Foundation Setelah Lima Tahun Berkarya
Rekor Baru! Penambang Bitcoin Publik Jual Lebih Banyak BTC di Q1 2026 Dibanding Sepanjang Tahun 2025
Senat AS Menunda Legislatif Struktur Pasar Kripto Hingga April
Tether Selamatkan Drift Protocol dengan Suntikan Dana $150 Juta Usai Diretas $280 Juta
Bitcoin Dipakai di Selat Hormuz, Apakah Ini “Game Over” untuk XRP?
TAGGED:BBCABBRIBMRIBUMIBursa Efek IndonesiaIHSGinvestor asingsaham bank

Sign Up For Daily Newsletter

Be keep up! Get the latest breaking news delivered straight to your inbox.
By signing up, you agree to our Terms of Use and acknowledge the data practices in our Privacy Policy. You may unsubscribe at any time.
Share This Article
Facebook Email Copy Link Print
Previous Article Rebalancing MSCI Hari Ini, Investor Perlu Waspadai Pergerakan Saham
Next Article September Effect Mengintai IHSG, Apa yang Perlu Dicermati?

Follow US

Find US on Socials
FacebookLike
XFollow
YoutubeSubscribe
TelegramFollow
Subscribe to our newsletter

Get Newest Articles Instantly!

Popular News
Kredit Perbankan Agustus 2026 Tumbuh 13,65 Persen
Surplus Perdagangan Indonesia Tembus US$3,55 Miliar
IPO BEI 2026 Baru Tujuh Emiten, Target Masih Jauh

Follow Capitalindo.id Us on Socials

Informasi pasar, aset digital, dan dinamika ekonomi modern

Twitter Youtube Telegram Linkedin

Media informasi pasar yang menyajikan berita, data, dan insight seputar aset digital dan ekonomi modern tanpa ajakan investasi.

  • Aset Digital
  • Berita Pasar
  • Data & Insight
  • Ekonomi Modern
  • Teknologi Finansial (Fintech)
capitalindo.id
Copyright © 2026 capitalindo.id, All Rights Reserved.
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lost your password?