Visa stablecoin settlement kini memasuki babak baru yang lebih besar. Raksasa pembayaran global Visa resmi memperluas program pilotnya ke jaringan Polygon dan Base. Selain itu, total volume penyelesaian tahunan program ini kini telah menembus angka $7 miliar. Ini adalah sinyal kuat bahwa pembayaran berbasis blockchain mulai serius diadopsi oleh institusi keuangan terbesar dunia.
- Dari 4 Jaringan Menjadi 9: Ekspansi Besar-Besaran
- Volume Tumbuh 50% Per Kuartal
- Kemitraan dengan Bridge dan Stripe Diperluas
- Mastercard Ikut Bersaing, Persaingan Makin Ketat
- GENIUS Act: Regulasi yang Mengubah Permainan
- Total Stablecoin Beredar Tembus $320 Miliar
- Siapa yang Akan Menguasai Lapisan Settlement?
- Kesimpulan: Stablecoin Bukan Lagi Eksperimen
Dari 4 Jaringan Menjadi 9: Ekspansi Besar-Besaran
Visa meluncurkan program pilot stablecoin ini pertama kali pada tahun 2023. Saat itu, program ini hanya mencakup empat jaringan blockchain. Namun, kondisi kini telah berubah drastis.
Jaringan yang baru bergabung mencakup Polygon, Base, Canton Network, Arc, dan Tempo. Dengan demikian, total jaringan yang didukung kini mencapai sembilan blockchain. Keempatnya bergabung bersama jaringan yang sudah ada sebelumnya, yaitu Ethereum, Solana, Stellar, dan Avalanche.

Oleh karena itu, Visa kini memiliki cakupan infrastruktur blockchain yang jauh lebih luas. Ini bukan lagi eksperimen kecil. Sebaliknya, ini adalah langkah strategis menuju adopsi stablecoin di skala global.
Volume Tumbuh 50% Per Kuartal
Angka pertumbuhannya pun sangat mengesankan. Program ini mencapai run rate penyelesaian tahunan sekitar $7 miliar, tumbuh sekitar 50% dari kuartal ke kuartal, menurut pernyataan resmi Visa. Cointelegraph
Meskipun demikian, Visa tetap jujur soal skala program ini. Volume tersebut masih jauh lebih kecil dibandingkan bisnis pembayaran utama mereka yang bernilai triliunan dolar. Namun demikian, pertumbuhan 50% per kuartal adalah angka yang tidak bisa diabaikan begitu saja.
Sementara itu, tujuan utama program ini juga semakin jelas. Visa merancang inisiatif ini untuk mengevaluasi apakah stablecoin dapat menawarkan penyelesaian lebih cepat, ketersediaan sepanjang waktu, dan efisiensi dalam pembayaran lintas batas. Cointelegraph
Kemitraan dengan Bridge dan Stripe Diperluas
Langkah ini bukan yang pertama dari Visa di tahun 2026. Sebelumnya, pada bulan Maret, Visa telah memperluas kemitraannya dengan Bridge — anak perusahaan Stripe. Kemitraan itu mendukung program kartu global yang memungkinkan pembayaran berbasis stablecoin.
Dengan demikian, Visa sedang membangun ekosistem stablecoin secara menyeluruh. Bukan hanya di sisi penyelesaian institusional, tetapi juga di level pengguna akhir melalui kartu pembayaran. Akibatnya, adopsi stablecoin berpotensi menjadi jauh lebih masif dan mudah diakses.

Mastercard Ikut Bersaing, Persaingan Makin Ketat
Visa bukan satu-satunya pemain besar yang bergerak ke arah ini. Kompetitor utamanya, Mastercard, juga semakin aktif di sektor yang sama. Mastercard bahkan telah mengaktifkan transaksi kartu berbasis stablecoin di Amerika Serikat. Fitur ini tersedia melalui integrasi dengan dompet kripto seperti MetaMask.
Oleh karena itu, persaingan di ranah pembayaran stablecoin kini semakin ketat. Dua raksasa kartu kredit dunia kini sama-sama berlomba membangun infrastruktur penyelesaian berbasis blockchain. Selain itu, perusahaan fintech pun turut masuk ke gelanggang yang sama.
Sebagai contoh, Modern Treasury — penyedia perangkat lunak pembayaran — mengumumkan integrasi dengan Polygon pada hari Rabu (29/4/2026). Tujuannya adalah membantu bisnis memproses pembayaran stablecoin dengan lebih cepat. Perusahaan berbasis San Francisco ini sebelumnya mengakuisisi platform pembayaran Beam pada Oktober lalu.
GENIUS Act: Regulasi yang Mengubah Permainan
Di balik ekspansi ini, ada faktor regulasi yang tidak kalah penting. Di Amerika Serikat, momentum adopsi stablecoin turut didorong oleh pengesahan GENIUS Act. Undang-undang ini menetapkan standar regulasi yang lebih jelas untuk stablecoin pembayaran.
Dengan demikian, kepastian hukum mulai terbentuk. Akibatnya, perusahaan kripto maupun fintech semakin percaya diri untuk berinvestasi di infrastruktur stablecoin. Namun demikian, beberapa isu kebijakan masih diperdebatkan. Salah satunya adalah apakah stablecoin boleh memberikan imbal hasil kepada pemegangnya — sebuah pertanyaan yang masih menggantung dalam rancangan undang-undang struktur pasar AS yang saat ini masih mandek.
Total Stablecoin Beredar Tembus $320 Miliar
Gambaran besar pasar stablecoin pun semakin menggembirakan. Total nilai stablecoin yang beredar telah melampaui $320 miliar, meningkat hampir 150% sejak awal 2024, berdasarkan data DeFiLlama. Cointelegraph
Oleh karena itu, ekspansi Visa bukan terjadi di ruang hampa. Sebaliknya, ini terjadi di tengah gelombang besar adopsi stablecoin yang sedang berlangsung secara global. Baik dari sisi pengguna maupun institusi, kepercayaan terhadap stablecoin terus meningkat.
Siapa yang Akan Menguasai Lapisan Settlement?
Pertanyaan terbesar kini adalah: siapa yang akan menguasai lapisan penyelesaian (settlement layer) dalam ekosistem stablecoin global? Baik perusahaan kripto maupun fintech sedang berlomba untuk membangun dan mengendalikan infrastruktur ini.
Visa berada di posisi yang sangat kuat. Mereka punya jaringan mitra global yang luas. Selain itu, mereka punya kepercayaan institusional yang sulit ditandingi pemain baru. Namun demikian, persaingan dari Mastercard, Stripe, dan pemain kripto-native seperti Circle dan Tether tidak bisa dianggap remeh.
Kesimpulan: Stablecoin Bukan Lagi Eksperimen
Ekspansi Visa ke Polygon dan Base adalah konfirmasi yang kuat. Stablecoin bukan lagi sekadar eksperimen di dunia kripto. Sebaliknya, mereka sedang menjadi infrastruktur nyata untuk pembayaran global.
Dengan volume $7 miliar yang tumbuh 50% per kuartal, jelas bahwa traksi ini nyata. Selain itu, regulasi mulai mendukung. Bahkan, kompetitor pun sudah bergerak. Dengan demikian, satu hal tampak pasti: masa depan pembayaran global akan melibatkan stablecoin — dan perebutan untuk menguasainya baru saja dimulai.


