IHSG “Terbang” 1,14% di Sesi I: Akhir Pahit Ramadan yang Berbalut Transaksi Raksasa
Jakarta – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) akhirnya memberikan sedikit napas lega bagi para pelaku pasar pada perdagangan Selasa (17/3/2026). Menutup sesi pertama di zona hijau, bursa domestik seolah ingin memberikan “salam perpisahan” yang manis sebelum memasuki libur panjang Idul Fitri 1447 H. Meski sempat melesat lebih tinggi di awal pembukaan, IHSG berhasil bertahan dengan penguatan yang cukup signifikan.
Hingga pukul 12.00 WIB, IHSG bertengger di level 7.102,21, naik 79,92 poin atau setara 1,14%. Pergerakan pasar terlihat sangat bergairah dengan 504 saham yang merangkak naik, sementara 210 saham terkoreksi, dan 244 saham stagnan. Namun, yang menjadi sorotan utama pagi ini bukanlah sekadar angka hijau, melainkan adanya transaksi “gajah” yang terjadi di pasar negosiasi.
Transaksi Jumbo di Balik Layar
Nilai transaksi pada sesi I ini tergolong fantastis, menembus Rp 10,95 triliun dengan volume 15,71 miliar saham. Namun, jika ditelisik lebih dalam, mayoritas likuiditas hari ini didorong oleh aksi korporasi di pasar negosiasi.
Saham Sumber Alfaria Trijaya (AMRT) menjadi bintang utama dengan nilai transaksi negosiasi mencapai Rp 3,65 triliun. Angka ini jauh melampaui rata-rata transaksi harian biasanya, yang mengindikasikan adanya perpindahan kepemilikan besar antar-investor institusi. Sementara itu, di pasar reguler—medan tempur para trader harian—saham Merdeka Gold Resources (EMAS) menjadi yang paling diburu dengan nilai transaksi sebesar Rp 1,48 triliun.
Sektor Teknologi Mengamuk, DCII Jadi Panglima
Berbeda dengan hari-hari sebelumnya yang penuh tekanan, mayoritas sektor hari ini kompak parkir di zona hijau. Sektor teknologi memimpin “pesta” siang ini dengan lonjakan tajam sebesar 3,25%.
Melambungnya sektor teknologi tidak lepas dari performa gemilang emiten milik taipan Toto Sugiri, DCI Indonesia (DCII). Saham data center ini terbang 5,81% ke level Rp 209.000 per lembar saham. Tak main-main, kontribusi DCII terhadap penguatan indeks mencapai 11,41 poin.
Tak sendirian, barisan saham milik konglomerat lain juga turut memanaskan mesin IHSG. Amman Mineral (AMMN) milik grup Salim dan Agus Projosasmito menyumbang 9,41 poin, disusul oleh emiten tambang Bumi Resources Minerals (BRMS) yang memberikan sumbangsih 8,21 poin. Kombinasi sektor teknologi dan komoditas ini menjadi bahan bakar utama yang menjaga IHSG tetap berada di atas level psikologis 7.100.

Ramadan yang Kelam: Anomali Lima Tahunan
Meskipun hari ini ditutup ceria, bagi mayoritas investor, Ramadan 2026 atau 1447 H adalah periode yang ingin segera dilupakan. Secara historis, bursa saham Indonesia biasanya mengalami fenomena window dressing mini atau penguatan menjelang Lebaran. Sebagai perbandingan, pada Ramadan 2025 lalu, IHSG berhasil terbang 3,8%.
Namun, tahun ini ceritanya berbeda 180 derajat. Sejak 19 Februari 2026 hingga penutupan kemarin, IHSG justru ambruk 15%. Ini adalah catatan terburuk dalam lima tahun terakhir. Bayangkan saja, dari 18 hari perdagangan selama bulan suci, IHSG hanya mampu menghijau sebanyak 5 kali. Artinya, 72% waktu perdagangan dihabiskan investor dengan melihat portofolio yang memerah darah.
IHSG yang sempat gagah di level 8.310 tepat sehari sebelum Ramadan, terpaksa terjun bebas ke level 7.022 pada Senin kemarin. Penurunan lebih dari 1.000 poin ini menghapus keuntungan yang dikumpulkan investor sejak awal tahun dalam sekejap.
Badai Sempurna: Dari Moody’s Hingga Perang Timur Tengah
Mengapa Ramadan kali ini begitu “kejam” bagi pasar modal? Analis menyebut ini sebagai perfect storm atau badai sempurna di mana sentimen negatif datang bertubi-tubi tanpa jeda.
Pertama, pasar dikejutkan dengan keputusan lembaga pemeringkat internasional, Moody’s dan Fitch Rating, yang menurunkan outlook rating Indonesia. Kekhawatiran mengenai proyeksi defisit APBN yang membengkak membuat investor asing memilih untuk wait and see dan menarik dana mereka (outflow) dari pasar ekuitas.
Kedua, dan yang paling fatal, adalah pecahnya konflik geopolitik yang melibatkan Iran versus Israel dan Amerika Serikat pada 28 Februari lalu. Perang ini memicu kepanikan global dan membuat harga minyak mentah dunia meroket. Puncaknya pada 4 Maret 2026, IHSG anjlok parah 4,57% dalam satu hari setelah harga minyak menembus angka US$ 100 per barel—level tertinggi sejak 2022. Lonjakan harga energi ini memicu ketakutan akan inflasi yang tak terkendali di dalam negeri.

Menanti Harapan Setelah Lebaran
Perdagangan hari ini menjadi penutup lembaran kelam di bulan Ramadan. Meski kenaikan 1,14% siang ini belum mampu menutupi luka penurunan 15% selama sebulan terakhir, setidaknya ada secercah harapan bahwa tekanan jual mulai mereda.
Investor kini berharap momen Idul Fitri dapat membawa sentimen positif, didorong oleh peningkatan konsumsi rumah tangga dan perputaran uang di daerah selama masa mudik. Pertanyaannya, apakah penguatan di akhir sesi 1 ini merupakan sinyal reversal (pembalikan arah) yang kuat, atau sekadar teknikal rebound sesaat sebelum pasar libur panjang?
Satu hal yang pasti, para pemegang saham kini bisa sedikit bernapas lega saat merayakan Lebaran, sembari berharap layar monitor di meja perdagangan akan kembali menghijau saat bursa dibuka kembali nanti.


