Gema Perang Sampai ke Sudut Bursa
Serangan udara Amerika Serikat dan Israel ke Iran pada akhir Februari mengguncang geopolitik dan menutup sementara Selat Hormuz, jalur yang membawa sekitar 30 % minyak dunia. Lonjakan harga minyak dan meningkatnya ketidakpastian membuat pelaku pasar di Indonesia berpaling dari saham dan mencari “safe haven”. Akibatnya, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang selama ini stabil tiba‑tiba bergejolak layaknya panggung EDM saat bass drop. Badai di Timur Tengah membawa angin kencang sampai ke lantai bursa Jakarta.
Data Terkini – IHSG Membaca Genderang Perang

Kita tak bisa mengabaikan angka‑angka. Riset Pilarmas Investindo Sekuritas mencatat bahwa pada Senin, 2 Maret 2026, IHSG anjlok 218 poin, setara 2,65 %, ke level 8 016 setelah serangan Amerika Serikat dan Israel ke Iran. Penurunan ini datang setelah Iran menutup Selat Hormuz, memicu kekhawatiran krisis energi dan mendorong investor global menjauh dari aset berisiko.
Gelombang berikutnya tak kalah deras. Sehari kemudian IHSG melemah lagi 77 poin (–0,96 %) ke 7 939,77 karena pelaku pasar cemas perang akan berlarut. Pada Rabu, 4 Maret, Bursa Efek Indonesia melaporkan penurunan lebih dari 3 % (sekitar 251 poin) saat Iran memperpanjang penutupan Selat Hormuz, bahkan data Antara mencatat koreksi sekitar 3 % dan menjelaskan bagaimana bursa Asia lain ikut rontok.
Menariknya, di tengah badai, beberapa sektor justru menikmati ombak. Data Suara.com menunjukkan bahwa saat IHSG turun 2,66 % ke 8 016,83, saham‑saham energi dan emas malah menguat karena kenaikan harga komoditas. Di pasar valuta asing, rupiah melemah ke Rp 16 868 per dolar AS, sementara inflasi Februari naik 0,68 % bulanan dan 4,76 % tahunan, memperlihatkan tekanan ganda dari harga energi dan nilai tukar.
Krisis Energi & Dampak Selat Hormuz
Penutupan Selat Hormuz oleh Iran memicu krisis energi global. Selat ini menjadi jalur bagi sekitar sepertiga perdagangan minyak mentah dan gas alam cair dunia. Direktur Perdagangan BEI Irvan Susandy menjelaskan bahwa penurunan IHSG disebabkan kekhawatiran gangguan rantai pasok energi. Bursa Korea Selatan bahkan sempat melakukan trading halt setelah anjlok lebih dari 8 %. Kenaikan harga minyak mentah memperbesar risiko inflasi dan pengetatan fiskal di Indonesia. Investor pun mulai memperhitungkan kemungkinan kenaikan subsidi bahan bakar jika harga minyak terus meroket.
Respon Regulator & Analis
Di tengah gejolak, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menegaskan bahwa pasar keuangan Indonesia relatif terjaga. Pejabat sementara Ketua Dewan Komisioner OJK, Friderica Widyasari Dewi, menyebut reformasi free float, transparansi ultimate beneficial ownership (UBO), dan penguatan tata kelola sebagai pondasi yang menjaga stabilitas. OJK menyiapkan delapan aksi reformasi, termasuk menaikkan batas free float dari 7,5 % menjadi 15 % untuk emiten baru, guna memperkuat integritas pasar.
Sementara itu, analis Kiwoom Sekuritas menyarankan investor untuk mengurangi posisi portofolio dan bersikap “wait and see”. Mereka menilai energi dan logam mulia sebagai sektor defensif utama di tengah volatilitas. Riset Pilarmas juga menekankan bahwa sebagai produsen batubara dan komoditas, Indonesia bisa mendapat keuntungan dari kenaikan harga energi, meski lonjakan harga minyak bisa menekan inflasi.
Pelajaran dari Konflik lain
Krisis bukan barang baru bagi pasar kita. Saat perang Rusia‑Ukraina meletus pada Februari 2022, IHSG sempat terkoreksi 1,48 % dalam sehari namun sehari kemudian rebound 2 % dan bahkan menembus rekor baru. Bahkan konflik Iran–Israel pada 2025 yang memicu koreksi lebih dari 5 % tak menghentikan reli IHSG hingga mencapai level 9 200 pada Januari 2026. Sejarah ini menunjukkan bahwa IHSG, meski rentan di awal konflik, cenderung pulih setelah ketidakpastian mereda.
Bloomberg Technoz mencatat pola umum ketika perang meletus: ketidakpastian membuat investor menjual saham dan berpindah ke emas atau obligasi, dana asing keluar dari pasar negara berkembang, dan harga komoditas (minyak, gas, pangan) berfluktuasi tajam. Bagi Indonesia, saham energi diuntungkan saat harga komoditas naik, sementara sektor yang bergantung pada bahan baku impor justru terbebani. Pelemahan rupiah bisa menekan emiten yang punya utang dalam dolar namun menguntungkan perusahaan berorientasi ekspor.
Apa yang Harus Dilakukan Investor?
Seperti naik roller coaster, volatilitas pasar memang memacu adrenalin. Tips sederhana bagi investor:
- Tetap tenang dan disiplin. Volatilitas merupakan bagian dari dinamika pasar; jangan terburu‑buru menjual seluruh portofolio.
- Diversifikasi ke sektor defensif seperti energi, emas, dan logam mulia, yang cenderung tahan guncangan konflik.
- Perhatikan fundamental emiten dan kebijakan pemerintah terkait energi dan subsidi. Kenaikan biaya energi dapat mempengaruhi margin keuntungan perusahaan.
- Pantau data inflasi, nilai tukar, dan kebijakan suku bunga. Kenaikan inflasi atau suku bunga dapat menekan IHSG dan rupiah.
Harapan di Tengah Badai
IHSG mungkin bergoyang ketika rudal meluncur dan minyak bergejolak, tetapi pengalaman menunjukkan bahwa pasar kita memiliki kemampuan untuk bangkit kembali. Reformasi struktural yang digalakkan regulator memberi fondasi kuat, sementara investor yang sabar bisa memanfaatkan peluang di tengah kegamangan. Mari menjaga kewaspadaan, mempelajari pola sejarah, dan tetap optimis bahwa badai perang akan berlalu dan bursa kembali cerah.


