Bitcoin mengalami koreksi tajam setelah sempat mendekati level $76.000. Namun, berbagai data pasar menunjukkan bahwa tekanan jual ini belum mengubah arah tren jangka panjang.
- Harga Bitcoin Turun Tajam Usai Tekanan Makroekonomi
- Pasar Saham AS Ikut Tertekan
- The Fed Diperkirakan Tahan Suku Bunga Lebih Lama
- Imbal Hasil Obligasi AS Masih Terkendali
- Momentum Bullish Bitcoin Masih Bertahan
- Risiko Likuidasi Masih Sangat Rendah
- Short Seller Mulai Terlalu Percaya Diri
- Emas Menunjukkan Tanda Kelelahan, Bitcoin Bisa Diuntungkan
- Kesimpulan: Koreksi Belum Ubah Arah Tren
Harga Bitcoin Turun Tajam Usai Tekanan Makroekonomi
Harga Bitcoin turun signifikan dalam beberapa hari terakhir. Penurunan ini terjadi setelah BTC sempat menyentuh level $76.000. Koreksi mencapai sekitar 7% dalam waktu singkat.
Selain itu, kondisi global turut memperparah situasi. Harga minyak dunia melonjak tajam. Hal ini terjadi setelah Israel menyerang fasilitas gas terbesar Iran. Akibatnya, investor menjadi lebih waspada terhadap aset berisiko.

Di sisi lain, data ekonomi AS juga memberikan tekanan. Indeks harga produsen AS naik di atas ekspektasi pasar. Dengan demikian, sentimen risiko di pasar keuangan global pun memburuk secara bersamaan.
Pasar Saham AS Ikut Tertekan
Pasar saham Amerika Serikat juga merasakan dampaknya. Indeks S&P 500 melemah seiring naiknya harga minyak. Meskipun demikian, indeks ini masih berada hanya 4% di bawah rekor tertinggi sepanjang masa.
Sementara itu, data ketenagakerjaan AS menunjukkan tanda-tanda pelemahan. Klaim pengangguran berkelanjutan tercatat stabil di angka 1,85 juta jiwa. Angka ini merujuk pada pekan yang berakhir 7 Maret lalu.
Lebih lanjut, data inflasi grosir AS ikut menambah kekhawatiran pasar. Harga grosir naik 3,4% secara tahunan pada bulan Februari. Ini merupakan kenaikan terbesar dalam 12 bulan terakhir.
The Fed Diperkirakan Tahan Suku Bunga Lebih Lama
Kenaikan harga minyak di atas $98 per barel memberi dampak besar. Investor semakin yakin bahwa The Fed tidak akan memangkas suku bunga dalam waktu dekat. Akibatnya, ekspektasi pasar berubah drastis.
Sebelumnya, peluang suku bunga tetap hingga September berada di angka 89%. Kini angka itu anjlok menjadi hanya 42%. Data ini bersumber dari CME FedWatch Tool berdasarkan pasar futures.
Oleh karena itu, inflasi yang tinggi dan risiko konflik yang berkepanjangan membuat investor semakin menghindari aset berisiko. Namun, bukan berarti pasar mengantisipasi keruntuhan harga secara tiba-tiba.
Imbal Hasil Obligasi AS Masih Terkendali
Salah satu indikator penting adalah imbal hasil obligasi AS tenor 2 tahun. Pada hari Rabu, imbal hasilnya berada di angka 3,71%. Sementara itu, ekspektasi inflasi 2 tahun dari Cleveland Fed tercatat 2,27%.
Dengan demikian, imbal hasil riil yang disesuaikan mencapai 1,44%. Angka ini masih jauh dari kondisi ekstrem. Sebab, pada masa ketakutan pasar yang sangat tinggi, imbal hasil riil biasanya mendekati nol atau bahkan negatif.
Sebaliknya, jika kepercayaan terhadap kebijakan moneter AS runtuh, indikator ini bisa melonjak di atas 2,5%. Jadi, kondisi saat ini masih tergolong normal dan terkendali.
Momentum Bullish Bitcoin Masih Bertahan
Meskipun harga bitcoin turun, data menunjukkan momentum bullish masih terjaga. Salah satu alasannya adalah minimnya penggunaan leverage oleh para pembeli. Hal ini mengurangi risiko likuidasi berantai.
Selanjutnya, dukungan dari pasar spot juga terlihat nyata. ETF Bitcoin spot yang tercatat di bursa AS terus mencatat aliran dana masuk. Selain itu, perusahaan Strategy (MSTR) juga aktif membeli Bitcoin dalam jumlah besar.
Akibatnya, momentum kenaikan harga BTC lebih ditopang oleh permintaan nyata. Bukan oleh spekulasi di pasar derivatif. Ini adalah tanda yang positif bagi keberlangsungan tren bullish.
Risiko Likuidasi Masih Sangat Rendah
Data dari CoinGlass memberikan gambaran yang menenangkan. Estimasi likuidasi posisi long Bitcoin hanya sekitar $450 juta jika harga turun ke $68.000. Jumlah ini kurang dari 1% dari total open interest sebesar $49 miliar.
Lebih penting lagi, funding rate futures perpetual Bitcoin menunjukkan sinyal menarik. Angkanya berada di bawah kisaran netral 6% hingga 12%. Bahkan, kondisi ini terjadi saat harga Bitcoin sempat di atas $76.000.
Kondisi ini memperkuat tesis bahwa permintaan spot — bukan spekulasi derivatif — yang menopang kenaikan harga. Dengan kata lain, pasar tidak terlalu panas dan rentan jatuh.

Short Seller Mulai Terlalu Percaya Diri
Ada sinyal menarik lain dari pasar. Funding rate negatif menunjukkan bahwa para short seller kini yang membayar biaya untuk mempertahankan posisi mereka. Ini artinya, posisi jual pendek sedang mendominasi pasar derivatif.
Namun, situasi ini justru bisa menjadi bumerang bagi mereka. Jika harga Bitcoin tiba-tiba naik, para short seller akan terpaksa menutup posisi mereka. Hal ini bisa memicu short squeeze yang mendorong harga naik lebih cepat.
Oleh sebab itu, kondisi ini sebenarnya lebih menguntungkan bagi para pembeli jangka panjang. Mereka tidak perlu bersaing dengan tekanan leverage besar dari sisi long.
Emas Menunjukkan Tanda Kelelahan, Bitcoin Bisa Diuntungkan
Perkembangan menarik juga terjadi di pasar emas. Harga emas turun ke $4.900 pada hari Rabu. Sebelumnya, emas bertahan di atas $4.800 selama empat pekan berturut-turut.
Tanda kelelahan ini bisa menjadi peluang bagi Bitcoin. Jika investor mulai merotasi dana dari emas ke Bitcoin, hal itu bisa memicu reli yang lebih kuat. Terlebih lagi, inflasi yang tinggi membuat imbal hasil aset pendapatan tetap semakin tidak menarik.
Sebaliknya, Bitcoin dianggap sebagai aset lindung nilai yang semakin relevan. Khususnya di tengah kekhawatiran inflasi dan ketidakpastian geopolitik global saat ini.
Kesimpulan: Koreksi Belum Ubah Arah Tren
Secara keseluruhan, harga bitcoin turun memang menciptakan kekhawatiran jangka pendek. Namun, data fundamental dan teknikal masih mendukung kelanjutan tren bullish. Leverage rendah, ETF terus menyerap supply, dan rotasi dari emas bisa jadi katalis berikutnya.
Singkatnya, koreksi ini lebih terlihat sebagai jeda sehat. Bukan sebagai tanda pembalikan tren besar. Investor jangka panjang tampaknya masih memanfaatkan momen penurunan ini sebagai kesempatan akumulasi.
Artikel ini merupakan ringkasan dan terjemahan bebas dari laporan Cointelegraph. Konten disusun ulang dalam Bahasa Indonesia untuk tujuan edukasi. Bukan merupakan saran investasi.


