Iran Pertimbangkan Bitcoin sebagai Alat Pembayaran Tol Minyak

Iran dilaporkan tengah mempertimbangkan penggunaan Bitcoin sebagai alat pembayaran tol bagi kapal tanker minyak yang melintas di Selat Hormuz. Laporan ini memantik perdebatan hangat di komunitas kripto global soal kelayakan dan implikasinya.
Kenapa Bitcoin, Bukan Stablecoin?
Pertanyaan pertama yang muncul adalah: mengapa Iran memilih Bitcoin dan bukan stablecoin?
Jawabannya sederhana namun penting. Menurut Justin Bechler, advokat Bitcoin, stablecoin seperti USDT dan USDC memiliki fungsi daftar hitam bawaan di level smart contract. Artinya, begitu sebuah alamat ditandai, penerbit dapat membekukan token tersebut sehingga menjadi tidak likuid sama sekali.
Oleh karena itu, stablecoin berdenominasi dolar AS tidak ideal bagi Iran yang tengah berada di bawah sanksi ketat Amerika Serikat. Bitcoin, sebaliknya, tidak memiliki penerbit, tidak ada petugas kepatuhan yang bisa ditekan, dan tidak ada fungsi pembekuan. Inilah yang membuat Iran melirik BTC sebagai alternatif.
Namun demikian, ada laporan lain yang saling bertentangan. Alex Thorn, Kepala Riset di perusahaan investasi kripto Galaxy, menyebut bahwa beberapa sumber justru melaporkan pembayaran dilakukan dalam stablecoin atau yuan China — bukan Bitcoin.
Selat Hormuz: Jalur Minyak Paling Strategis di Dunia
Selat Hormuz bukan jalur biasa. Sekitar 20% dari total pasokan minyak dunia melewati jalur perairan sempit ini setiap harinya. Dengan demikian, siapa pun yang mengendalikan akses ke selat ini memegang kartu yang sangat kuat dalam geopolitik energi global.
Jika Iran benar-benar memberlakukan tarif tol dalam Bitcoin, dampaknya akan jauh melampaui sekadar transaksi kripto biasa.
Berapa Besar Nilai Tolnya?
Thorn memperkirakan setiap kapal tanker perlu membayar antara $200.000 hingga $2 juta untuk bisa melintas. Ini bukan jumlah kecil. Selain itu, laporan awal menyebut kapal-kapal hanya punya waktu beberapa detik untuk menyelesaikan pembayaran.
Lightning Network atau QR Code?
Kecepatan pembayaran ini memunculkan pertanyaan teknis yang menarik. Apakah Iran akan menggunakan Lightning Network — solusi layer-2 Bitcoin yang memungkinkan transaksi selesai dalam hitungan detik?
Masalahnya, transaksi terbesar yang pernah tercatat di Lightning Network baru mencapai $1 juta. Sementara nilai tol bisa mencapai $2 juta per kapal.
Karena itu, Thorn berpendapat bahwa cara yang lebih masuk akal adalah dengan menyediakan QR code atau alamat Bitcoin langsung kepada kapal tanker setelah permintaan mereka disetujui. Metode ini lebih sederhana dan tidak bergantung pada batas kapasitas Lightning Network.
Implikasi bagi Bitcoin Secara Global
Jika skenario ini benar-benar terjadi, dampaknya terhadap posisi Bitcoin di panggung dunia bisa sangat signifikan. Para pendukung BTC menyebut ini sebagai bukti nyata bahwa Bitcoin bisa berfungsi sebagai lapisan penyelesaian transaksi yang netral di tingkat internasional — melampaui batas yurisdiksi dan tekanan geopolitik mana pun.
Kesimpulan
Laporan soal Iran dan Bitcoin di Selat Hormuz masih simpang siur. Namun satu hal yang jelas: wacana ini telah membuka diskusi serius tentang peran Bitcoin sebagai alat pembayaran lintas negara yang bebas dari jangkauan sanksi. Apapun hasilnya, ini adalah momen penting dalam sejarah adopsi Bitcoin di level geopolitik.


