Bitcoin tetap stabil di sekitar $71.000 meskipun meningkatnya ketegangan geopolitik setelah Presiden AS Donald Trump memperingatkan kemungkinan serangan terhadap fasilitas minyak Iran di Pulau Kharg.
Mata uang kripto terbesar di dunia itu bahkan mencatat kenaikan sekitar 4,2% dalam sepekan, menunjukkan ketahanan pasar kripto di tengah kondisi makro dan geopolitik yang tidak menentu.
Bitcoin Tahan di Tengah Tekanan Global
Pergerakan Bitcoin terjadi di saat kondisi pasar global cukup menekan aset berisiko.
Beberapa faktor yang biasanya menekan harga kripto saat ini sedang terjadi, antara lain:
-
Indeks dolar AS (DXY) naik di atas level 100 untuk pertama kalinya sejak akhir November.
-
Yield obligasi pemerintah AS meningkat, dengan obligasi 10 tahun naik di atas 4,2%.
-
Harga minyak tetap tinggi mendekati $100 per barel karena konflik di Timur Tengah.
Biasanya kombinasi faktor tersebut membuat investor menghindari aset berisiko seperti saham teknologi dan kripto. Namun, dalam kondisi ini, Bitcoin justru tetap kuat dibandingkan dengan pasar saham AS.
Konflik Iran Jadi Latar Belakang Gejolak Pasa
Ketegangan meningkat setelah serangan militer AS terhadap target di Pulau Kharg, yang merupakan pusat ekspor minyak utama Iran.
Pulau Kharg sering disebut sebagai “mahkota” industri minyak Iran, karena sekitar 90% ekspor minyak negara tersebut dikirim melalui fasilitas di sana.
Trump mengatakan militer AS telah menghancurkan target militer di pulau tersebut, namun infrastruktur minyak belum diserang untuk saat ini.
Ia juga memperingatkan bahwa keputusan tersebut bisa berubah jika Iran terus menghalangi kapal-kapal di Selat Hormuz, jalur penting perdagangan minyak global.
Bitcoin Menjadi Salah Satu Aset Makro Terkuat
Meski terjadi konflik yang meningkatkan ketidakpastian ekonomi global, Bitcoin justru menjadi salah satu aset makro dengan performa terbaik sejak perang dimulai pada awal Maret.
Selama periode konflik tersebut:
-
Bitcoin tetap bertahan di sekitar $71.000
-
Pasar saham AS bergerak datar atau melemah
-
Harga energi melonjak akibat kekhawatiran gangguan pasokan minyak
Hal ini menunjukkan bahwa sebagian investor mulai melihat Bitcoin sebagai aset alternatif yang relatif tahan terhadap gejolak geopolitik.
✅ Kesimpulan:
Bitcoin berhasil mempertahankan level sekitar $71.000 meskipun pasar global sedang menghadapi tekanan dari konflik Timur Tengah, kenaikan dolar AS, serta lonjakan harga minyak. Ketahanan ini memperkuat pandangan bahwa Bitcoin semakin dipandang sebagai aset makro yang mampu bertahan di tengah ketidakpastian global.


