Ketegangan di Selat Hormuz memunculkan narasi baru di pasar kripto. Bitcoin disebut digunakan sebagai alat pembayaran dalam jalur minyak strategis, memicu perbandingan langsung dengan XRP dalam sistem keuangan global.
Meski belum ada bukti on-chain yang terverifikasi, sentimen ini langsung berdampak ke pasar.
Bitcoin Masuk Jalur Minyak Global
Selat Hormuz merupakan jalur penting yang mengalirkan sekitar 20% pasokan minyak global.
Dalam laporan terbaru, disebutkan adanya permintaan biaya sekitar $1 per barel, dengan pembayaran dalam bentuk Bitcoin atau yuan.
Untuk satu kapal tanker besar, biaya ini bisa mencapai sekitar $2 juta atau setara 281 BTC.
Kondisi ini membuat Bitcoin dipandang sebagai alat pembayaran netral yang bisa digunakan di luar sistem keuangan tradisional.
I’ll believe Iran is charging a toll in $BTC when I see a tx linked to a vessel’s toll payment. Otherwise it’s just the IRGC trolling the western filthy fiat financial system.
— Arthur Hayes (@CryptoHayes) April 9, 2026
Namun, beberapa analis tetap skeptis. Arthur Hayes menyatakan klaim tersebut perlu dibuktikan melalui transaksi on-chain yang jelas sebelum bisa dianggap valid.
Baca juga: Prediksi XRP $1.000: Realistis atau Sekadar Halu?
Perubahan Narasi: Bitcoin sebagai Settlement Tool
Terlepas dari kontroversi, narasi Bitcoin mengalami pergeseran.
Awalnya dikenal sebagai alat pembayaran ritel, lalu berkembang menjadi penyimpan nilai, kini mulai dilihat sebagai alat settlement global dalam kondisi krisis.
Konsep seperti “neutral settlement” dan “borderless money” semakin sering dikaitkan dengan Bitcoin.
Hal ini terlihat dari kemampuannya beroperasi tanpa bergantung pada sistem perbankan atau jaringan seperti SWIFT.
Kenaikan harga Bitcoin kembali di atas $70.000 juga menunjukkan pasar merespons narasi ini secara positif.
XRP Tetap Relevan, Tapi di Konteks Berbeda
¿Game Over para XRP por lo de Ormuz? @itscoachfo Fran de Olza pone sobre la mesa un debate real: Irán exige 1$ por barril en Bitcoin para permitir el paso por el estrecho. Bitcoin se convierte en la moneda de “emergencia” geopolítica. Pero, ¿significa esto el fin de XRP? ? 1/4
— Mariano Sevilla (@MarianoSevillaY) April 9, 2026
Perbandingan dengan XRP pun tak terhindarkan.
Beberapa analis menilai bahwa fungsi yang kini dikaitkan dengan Bitcoin sebenarnya sudah lama menjadi fokus XRP, terutama dalam pembayaran lintas negara dan settlement institusional.
Namun, ada perbedaan mendasar. Bitcoin unggul dalam situasi krisis karena sifatnya yang tahan sensor dan independen.
Sementara itu, XRP lebih dirancang untuk sistem keuangan yang terstruktur dan teregulasi. Dengan kata lain, keduanya memiliki peran yang berbeda.
Bitcoin lebih cocok untuk kondisi darurat, sedangkan XRP untuk infrastruktur jangka panjang.
Kesimpulan
Isu penggunaan Bitcoin di Selat Hormuz menunjukkan bahwa kripto mulai masuk ke ranah yang lebih luas dari sekadar aset spekulatif.
Meski belum terbukti secara teknis, narasi ini sudah cukup kuat untuk mempengaruhi persepsi pasar.
Bitcoin dan XRP tidak sepenuhnya bersaing secara langsung, tetapi justru mengisi peran yang berbeda dalam ekosistem keuangan global.
Perkembangan ini menegaskan bahwa kripto semakin terintegrasi dalam dinamika geopolitik dan perdagangan global.
FAQ
1. Apakah Bitcoin benar-benar digunakan di Selat Hormuz?
Belum ada bukti on-chain yang terverifikasi, sehingga klaim tersebut masih dalam tahap spekulasi.
2. Kenapa Bitcoin dikaitkan dengan pembayaran minyak?
Karena sifatnya yang netral dan tidak bergantung pada sistem keuangan tradisional.
3. Apa perbedaan utama Bitcoin dan XRP?
Bitcoin fokus pada desentralisasi dan ketahanan terhadap sensor, sementara XRP dirancang untuk pembayaran institusional.
4. Kenapa isu ini penting bagi pasar kripto?
Karena menunjukkan potensi penggunaan kripto dalam transaksi global skala besar.
5. Apakah Bitcoin akan menggantikan XRP?
Tidak sepenuhnya, karena keduanya memiliki fungsi dan target penggunaan yang berbeda.


